Menapaki Kawah Gunung Ijen

Lama saya tak muncul dan tak bercerita tentang traveling. Yup, memang lagi agak jarang traveling yang serius karena pekerjaan saya juga lebih sering mengharuskan “traveling” alias keluar kota untuk mengunjungi beberapa project. Nah kalau urusan kerja keluar kota biasanya hanya bisa mengunjungi tempat-tempat yang umum namun belum pernah dikunjungi dan kebanyakan adalah tempat makan😀 seperti misalnya ke kota Batu, hampir setiap malam selalu hadir di Alun-alun kota Batu yang ketika pertama kali kesana saya cukup amazed dengan banyaknya makanan disana. Kemudian menjadi lapar mata lalu kalap dan berakhir tongpes hahaha! Lalu berkunjung ke kota Makassar mencoba coto gagak dan pallu basa yang tersohor itu dan berakhir di Pantai Losari sambil makan pisang epe’ *lagi lagi makan*😀 Yang paling sering dikunjungi adalah kota Surabaya, kalau ini kulinernya sudah gak perlu lagi diceritakan, beragam dan enak-enak! Jadi tak heran setiap keluar kota untuk kerjaan pasti berat badan akan naik karena work hard, eat hard *halaah*

Nah, traveling yang agak serius adalah dua bulan yang lalu ketika ada family gathering yang diadakan kantor. Destinasi yang dituju juga dekat, yaitu ke Banyuwangi.

Hari pertama, kami ke Pulau Merah yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari pusat kota Banyuwangi. Kalau anda tinggal di Bali yang notabene lebih sering melihat pantai-pantai bagus di Bali mungkin Pantai Merah ini menjadi terlihat biasa saja. Hanya hamparan pantai yang panjang dan ada sebuah gugusan pulau kecil di tengahnya. Sayangnya saat berkunjung kesana kami disambut hujan deras. Jadi terasa kurang pas ketika ke pantai namun tidak berpanas-panas ria. Hehehehe.

dsc_2421-01

Di hari kedua, jadwal kami adalah hiking ke kawah Gunung Ijen. Ini yang saya tunggu-tunggu karena ini akan jadi perjalanan kedua saya hiking atau istilah yang keren dikalangan traveler adalah muncak *haseeg* :)) Jangan terlalu berpikir jauh versi muncak saya, karena untuk urusan naik gunung saya termasuk tipe cemen-penasaran :)) cemen karena fisik saya tidak terlalu kuat untuk urusan dingin. Penasaran karena keindahan yang didapat ketika sampai di puncak adalah sesuatu yang mewah buat saya.

Kami mulai berangkat dari penginapan pukul 10 malam dengan rute: Licin-Jambu-Paltuding waktu yang ditempuh dengan mobil kurang lebih 1,5 jam. Dari Licin menuju Paltuding kami disuguhi pemandangan-pemandangan bukit dan hutan yang indah serta jalan yang berkelok dan menanjak. Paltuding adalah pos terakhir bagi kendaraan dan memulai trekking menuju kawah Ijen. Pendakian jalur awal menurut saya yang agak berat karena jalanan sedikit berpasir dan cukup menanjak. Tak terhitung berapa banyak saya berhenti untuk mengatur nafas😀 perlahan namun pasti, itu slogan saya :))

Di jalur pendakian juga tersedia semacam troli diperuntukkan bagi yang gak kuat menanjak, jadi tinggal duduk di kereta seadanya tersebut dan nanti ditarik satu orang didepan dan satu orang dibelakang yang mendorong dan tentunya tidak gratis yaaaaa. Troli yang lewat dihadapan saya seperti godaan penuh kemewahan bagi saya yang-hampir-putus-asa-dan-mau-balik-turun-saja hahahahaha. Saya dibuat saluuuttttt luar biasa sama bapak-bapak penarik troli yang naik turun kawah Ijen untuk mencari nafkah ini. Ada juga beberapa penambang belerang yang memanggul keranjang berisi belerang kuning, yang kalau ditimbang kira-kira beratnya bisa mencapai 100 kg dan harus dipikul turun😦 salut dan bersyukur yang terpikirkan oleh saya saat itu.

Daaaaan setelah lebih separuh perjalanan akhirnya tiba di pos bunder. Di pos ini kami tidak singgah karena ramai oleh pendaki lainnya, kami pun memutuskan untuk lanjut. Yang selalu saya tanyakan kepada guide atau kawan yang sudah pernah ketika melakukan perjalanan jauh adalah biasanya “masih jauh gak?” jadi saya bisa mengukur kemampuan saya selanjutnya. Setelah di pos bunder saya bertanya kepada guide saat itu dan si mas pun menjawab “deket kok, kalau jalan terus 15 menitan juga nyampe.” Waah saya semakin bersemangat untuk meneruskan perjalanan. Dan benar saja setelah dari pos bunder jalurnya sedikit menanjak tajam namun setelahnya landai yang menandakan kawah Ijen semakin dekat.

Akhirnya setelah 3 jam perjalanan trekking, tibalah kami di bibir kawah gunung Ijen di ketinggian 2386 mdpl. Masih pukul 03.30 saat itu, kami beristirahat sebentar dan duduk-duduk. Ternyata duduk-duduk bukan suatu keringanan karena hawa dingin yang menusuk mengharuskan untuk bergerak terus. Jadi kami mencoba berjalan sedikit lagi ke lokasi tempat melihat sunrise. Ke kawah Ijen ada 2 alternatif pemandangan yang bisa dikunjungi, yang pertama melihat fenomena blue fire yang di dunia hanya ada 2, yaitu di Islandia dan di kawah Ijen. Jaraknya untuk turun kebawah sekitar 250 meter dengan kondisi jalan yang bebatuan. Fenomena api biru alami ini hanya bisa dinikmati sebelum matahari terbit. Jangan lupa untuk memakai masker karena bau belerang yang cukup menyengat.

img-20160816-wa0036

Selain melihat si api biru, pemandangan lainnya adalah menikmati sunrise dari lokasi berbeda. Agak berhati-hati menuju kesana karena di sebelah sisi kiri adalah jurang kawah.

dsc_2454

Saya selalu kagum akan keindahan alam, pantai atau gunung, bukit atau lembah, sungai atau hamparan sawah, semuanya terasa meringankan. Semburat kemerahan penantian akan matahari terbit tidak beranjak dari penglihatan saya. Menakjubkan!

img-20160816-wa0054-01

Di perjalanan turun, kami berpapasan dengan Gordon Ramsay :))) gak sempat fotoan karena saya tidak terlalu mengenali wajahnya hanya sekedar tahu dari nama saja. Setelah saya googling memang agak mirip dengan yang berpapasan tadi, bisa jadi juga teman saya yang rada siwer matanya :))))

 

Enough said.

Harusnya bulan Juni ini adalah bulan bahagia buat saya. Namun semesta justru berkompromi di bulan ini untuk menghadirkan kekecewaan mendalam bagi saya.

Tak ada gunanya lagi marah untuk penyimpangan yang terjadi berulang kali. Masih ada beberapa sisa hari di bulan Juni untuk saya hadirkan kebahagiaan bagi diri saya.

Saya tidak ingin larut dalam kesedihan, namun kecewa itu seperti mutlak bagi saya. Saya lelah memaki-maki diri karena kebodohan diri saya. Cukup sudah.hurt and dissapointed - Google zoeken: pic from here