Tertampar Kenangan

Air mata menggenang di pelupuk mata

Tenggorokan tercekat ingin menjerit

Pikiran mengisahkan masa lalu

Aku ingin menghapus kenangan

 

Kau hanya membuat dada sesak

Kau merusak pikiran ku

Kau menyakiti raga ini

Kau lebih baik enyah saja

 

Ketika usaha tak lagi diharapkan

Sekuat apapun berusaha, mungkin tak lagi bermakna

Tertutup oleh rasa tak percaya

Sebaiknya untuk tak memaksa

 

Melihat ke dalam diriku

Terlalu banyak kekurangan

Terlalu penuh kesalahan yang terulang

Terlalu tak menyadari hingga tersakiti

 

Image result for memory pic

Pic source Google

Advertisements

Cerita Senin Pagi

Barusan saja saya selesai membaca ini. Cerita haru sekaligus menguatkan saya. Memang, saya belum pernah hamil, tapi kekuatan mereka menerima ini semua dalam hidup mereka membuat saya-untuk-menghapus-rasa-tidakmenerima-dari apapun kejadian hidup saya.

Sambil membaca, saya teringat sahabat baik saya yang juga sedang mengalami hal yang sama seperti bacaan saya tadi. Walaupun sahabat saya ini lebih banyak bungkam soal kisahnya tentang ini, tapi saya bisa merasakan kerapuhannya dalam menjalani fase hidup ini.

Bulan lalu kami bertemu, dia liburan di Bali bersama suaminya. Saya memposisikan untuk menghadirkan keceriaan selama mereka disini. Beberapa teman kami bertanya “Kok gak nanya-nanya perkembangan mereka gimana sekarang?” Hei, saya gak mau ngerusak liburan orang dengan airmata. Saya gak se-tega itu 🙂

Dengan ngakak-ngakak di tepi kolam, foto-foto, cerita-cerita bodoh dan lainnya buat saya ini cukup sebagai usaha saya sedikiiiiiiiitt meringankan bebannya.

Hei, kamu… Sini aku peluk

Surgaku, Surgamu.

IMG_20170505_101910_800

Repost

Tentang Agama

Waktu aku kecil, aku belajar agama. Kata guruku, hanya penganut agamaku saja yang nanti akan masuk surga. Pulangnya aku berpikir, bagaimana nanti nasib temanku Meichan yang tak pernah mengenal Tuhanku? Apakah dia akan akan terpanggang di api neraka? Padahal untuk membunuh semut saja, Meichan tak mampu. Meichan hanya memakan sayur-sayuran.

Lalu aku melihat temanku Abdul. Dia selalu berpuasa. Menahan lapar sebulan penuh. Sampai bibirnya kering. Tubuhnya lemas. Subuh dia terbangun, menyembah Tuhannya, saat ilerku masih berserakan. Lalu apakah dia pun akan ke neraka? Abdul selalu membuatku tertawa dikala jam istirahat.

Lalu aku melihat teman-temanku yang lain, yang agamanya berbeda dariku. Yang menyembah Tuhannya sepenuh jiwa raga. Apakah mereka semua akan terbakar dalam api neraka?

Lalu aku membuka Internet. Berhitung berapa banyak penganut agama lain, selain agamaku. Aku takjub, betapa besarnya Neraka yang akan dibangun Tuhanku.

Lalu di sore hari aku bertanya pada Bapak. Darimana aku berasal? Bapak menjawab, aku berasal dari cinta. Aku adalah wujud dari cinta itu sendiri.

Lalu buat apa Tuhan menciptakan manusia unik dan berbeda, jika ujungnya 2/3 dari mereka semua akan terpanggang dalam api neraka? Jika kita semua berasal dari cinta, bagaimana mungkin Ia tega membakar habis cinta?

Aku lelah mendengar mereka berteriak “Ganyang” atas nama Tuhan. Bagaimana mungkin mereka berpikir Tuhan akan mengizinkan pertumpahan darah atas nama-Nya? Padahal Dia sendiri adalah Maha Pecinta.

Jika ke-Ilahian sesederhana itu. Biarlah aku tak ke surga. Asal bersama Meichan dan Abdul. Setidaknya di neraka, kami bisa bermain gitar bersama untuk membunuh sepi.

Kini, aku sudah tak lagi bercita-cita masuk surga. Karena konsep surga yang mereka tawarkan hanya memisahkanku dengan teman-temanku. Sedangkan Tuhanku yang Maha Pengasih tak mungkin merancang demikian.

Ditulis oleh seorang kawan baik: Henny W Simamora

(gambar diambil dari berbagai sumber di google)

Jangan berlebihan, ah.

Fase hidup saya sedang belajar buat menikmati hari-hari saya dan gak berlebihan dalam menyikapi segala sesuatu. Emang bener, apa-apa kalau berlebihan itu gak baik.

Kalau Tere Liye bilang “Hati manusia itu mudah berubah. Karena itu, jangan berlebihan. Agar sakitnya tidak terlalu dalam membekas.”

Nah!

Kalau udah bisa belajar apa-apa gak berlebihan, hari-hari mu akan tenang, gak lagi mikirin hal-hal yang gak esensi buat hidupmu. Dan ketahuilah kawan, setiap hari itu luar biasa kalau ada ‘bad day’ nikmati aja, kuncinya jangan berlebihan itu tadi. Yuk, sama-sama belajar menikmati hari dan bersyukur.

Amazing day-nya Coldplay salah satu favorit saya untuk mengawali hari. Gapapa belum dapet kesempatan nonton konsernya yang bakal digelar akhir bulan ini di Singapore, mungkin nanti beruntungnya nonton di negara lain :))

❤ ❤ ❤

 

Segelas es teh tawar dan sayur kubis

Saya ini penyuka makanan manis. Saya lemaaaahhh banget ketika ke supermarket dan melewati rak coklat, saya pasti berhenti dan mulai melihat satu per satu jenis coklat yang berjejer disitu. Tapi karena saya tipikal kalau-udah-cinta-susah-pindah-ke-lain-hati ya ujung-ujungnya tetep yang diambil coklat ratuperak hehehehe. Pokoknya segala kue-kue, biscuit coklat, roti, es krim duh susah nolak. Sumpah!

Beda dengan minuman, lidah saya ga begitu fanatik seperti makanan manis diatas. Kalau sedang makan di warung atau bahkan resto, paling sering saya pesan air mineral atau es teh manis saja. Sesekali es jeruk atau jus buah. Saya justru kurang doyan dengan minuman berbasis coklat atau kopi seperti hot chocolate atau milk shake atau cappuccino atau latte dan kawan-kawannya. Kurang pas saja di lidah saya yang ndeso ini.

Awalnya keranjingan minum es teh itu ketika jadi anak kuliah. Anak kuliah pada umumnya, makannya di warung mulu udah pasti minumnya pesen es teh mulu. Kalaupun di bungkus buat makan di kost, es teh nya juga ga ketinggalan dibungkus. Es teh yang sebenarnya ga baik kalau udah keseringan (hati-hati diabet) tapiiiii tetep ga bisa buat dikurangi. Seinget saya waktu dulu, perbandingan minum air putih dengan es teh adalah 1:2 errrrrrr ngeri! Nah, kebalikan dari es teh manis adalah minuman yang paling saya benci saat itu, yaitu es teh tawar! Waktu itu minuman es teh tawar rasanya seperti sampah menurut saya. Amat, sangat tidak enak dan pahit!

Saya tidak pernah menyentuh minuman itu, hingga tahun 2013 saya mulai kenalan lagi dengan es teh tawar. Yang mengenalkan saya dengan minuman itu, kamu.

Saya bingung waktu itu, kenapa kamu kalau setiap makan bareng di warung selalu pesan es teh tawar yang menurut saya waktu itu minuman yang rasanya (masih) sampah ga bisa diterima lidah saya.

Pertemuan kita yang semakin sering terjadi dan menghasilkan obrolan-obrolan itu lah saya tahu bahwa kamu masih ada faktor keturunan diabetes sehingga kamu meminimalisasi asupan makanan / minuman manis yang masuk ke tubuhmu salah satunya dengan memilih es teh tawar. Sungguh perbedaan yang cukup signifikan dengan kesukaan saya selama ini :p no problem ya kan, toh berbeda itu akan indah kalau kita bisa melihat perbedaan itu dengan cara pandang positif. 😀

Suatu hari karena dipicu rasa penasaran, saya mulai memberanikan diri ikut memesan minuman yang sama denganmu. “Es teh tawar nya 2, mbak!” sahut saya ketika ditanya mau minum apa kita saat itu. Lalu minuman itu disajikan, saya pun meminumnya. Wow, ternyata tidak seperti minuman sampah yang selama ini saya kira. Tidak pahit juga! Rasanya seperti minum air putih hanya saja ada rasa teh yang tidak terlalu mencolok sampai pahit seperti yang terekam di otak saya selama ini.

Itu lah awal mula ketertarikan saya dengan es teh tawar dan mampu mengubah pikiran saya selama ini. Hari berganti, tahun berlalu, sampai detik dimana saya menulis ini, saya masih lebih memilih es teh tawar ketimbang es teh manis untuk pilihan minuman. Itu karena kamu.

Semua pasti tahu sayur kol / kubis. Sayur berwarna hijau pucat ini jadi makanan yang dulu sering ada dikeseharian saya. Kalau Ibu saya masak sop ayam, sudah pasti ada kol di dalamnya. Ibu juga terkadang menyertakan kol untuk lalapan bersama pete kesukaan saya dan alm Bapak. Ketika beranjak kuliah sayur kol juga tidak asing bagi anak kuliahan seperti saya saat itu yang hampir setiap hari makan lalapan penyetan atau lalapan pecel lele karena harganya yang sangat manusiawi bagi mahasiswa.

Beberapa tahun belakangan ini sayur kol ini hampir tidak pernah saya sertakan di daftar sayuran yang saya konsumsi. Penyebabnya? Kamu.

Saya tahu ketertarikanmu pada sayuran sangat minim. Minim bukan berarti tidak makan sayur sama sekali, kamu pemilih untuk jenis sayuran tertentu. Di awal kita bertemu dan saling berkomunikasi disitu saya tahu bahwa kamu memang tidak menyukai beberapa sayuran. Di warung, kalau kita makan bareng kamu pasti hanya memilih lauk pauk saja karena sayuran yang tersedia tidak sesuai seleramu. Yang paling mencolok adalah sayuran yang-kamu-sebut-kubis yang tidak masuk dihitunganmu. Kenapa saya paling tahu itu, karena makan bakso saja kamu selalu pasti memesan untuk tidak pakai kubis. Se la lu.

Kebiasaanmu itu merambat ke kehidupan saya. Sekarang saya sangat jarang makan sayur kubis/kol. Dan yang paling signifikan adalah, ketika memesan bakso (juga) atau nasi goreng saya akan selalu bilang “jangan dikasih kubis ya, pak.” Rasa doyan itu berkurang di diri saya. Itu karena kamu.

Segelas es teh tawar dan sayur kubis adalah hal-hal yang mengubah pola hidup saya. Menambah dan mengurangi. Mungkin terdengar sederhana karena 2 hal tsb. Tapi buat saya kamu berdampak bagi hidup saya sedemikian rupa, bahkan untuk waktu yang menurut saya singkat ini (dari 2013 sampai sekarang). Tidak perlu hal-hal yang besar bagaimana kamu mempengaruhi hidup saya, saya mengingat dari hal-hal kecil yang kadang terabaikan.

Saya tidak bertujuan apa-apa menulis ini. Hanya bentuk apresiasi saya terhadap kamu, bahwa dampak yang kamu buat ke saya seperti ini. Toh dampak tidak selalu negatif. Kalau ini silahkan kamu menilainya sendiri. Saya ngantuk.