Jangan berlebihan, ah.

Fase hidup saya sedang belajar buat menikmati hari-hari saya dan gak berlebihan dalam menyikapi segala sesuatu. Emang bener, apa-apa kalau berlebihan itu gak baik.

Kalau Tere Liye bilang “Hati manusia itu mudah berubah. Karena itu, jangan berlebihan. Agar sakitnya tidak terlalu dalam membekas.”

Nah!

Kalau udah bisa belajar apa-apa gak berlebihan, hari-hari mu akan tenang, gak lagi mikirin hal-hal yang gak esensi buat hidupmu. Dan ketahuilah kawan, setiap hari itu luar biasa kalau ada ‘bad day’ nikmati aja, kuncinya jangan berlebihan itu tadi. Yuk, sama-sama belajar menikmati hari dan bersyukur.

Amazing day-nya Coldplay salah satu favorit saya untuk mengawali hari. Gapapa belum dapet kesempatan nonton konsernya yang bakal digelar akhir bulan ini di Singapore, mungkin nanti beruntungnya nonton di negara lain :))

❀ ❀ ❀

 

Segelas es teh tawar dan sayur kubis

Saya ini penyuka makanan manis. Saya lemaaaahhh banget ketika ke supermarket dan melewati rak coklat, saya pasti berhenti dan mulai melihat satu per satu jenis coklat yang berjejer disitu. Tapi karena saya tipikal kalau-udah-cinta-susah-pindah-ke-lain-hati ya ujung-ujungnya tetep yang diambil coklat ratuperak hehehehe. Pokoknya segala kue-kue, biscuit coklat, roti, es krim duh susah nolak. Sumpah!

Beda dengan minuman, lidah saya ga begitu fanatik seperti makanan manis diatas. Kalau sedang makan di warung atau bahkan resto, paling sering saya pesan air mineral atau es teh manis saja. Sesekali es jeruk atau jus buah. Saya justru kurang doyan dengan minuman berbasis coklat atau kopi seperti hot chocolate atau milk shake atau cappuccino atau latte dan kawan-kawannya. Kurang pas saja di lidah saya yang ndeso ini.

Awalnya keranjingan minum es teh itu ketika jadi anak kuliah. Anak kuliah pada umumnya, makannya di warung mulu udah pasti minumnya pesen es teh mulu. Kalaupun di bungkus buat makan di kost, es teh nya juga ga ketinggalan dibungkus. Es teh yang sebenarnya ga baik kalau udah keseringan (hati-hati diabet) tapiiiii tetep ga bisa buat dikurangi. Seinget saya waktu dulu, perbandingan minum air putih dengan es teh adalah 1:2 errrrrrr ngeri! Nah, kebalikan dari es teh manis adalah minuman yang paling saya benci saat itu, yaitu es teh tawar! Waktu itu minuman es teh tawar rasanya seperti sampah menurut saya. Amat, sangat tidak enak dan pahit!

Saya tidak pernah menyentuh minuman itu, hingga tahun 2013 saya mulai kenalan lagi dengan es teh tawar. Yang mengenalkan saya dengan minuman itu, kamu.

Saya bingung waktu itu, kenapa kamu kalau setiap makan bareng di warung selalu pesan es teh tawar yang menurut saya waktu itu minuman yang rasanya (masih) sampah ga bisa diterima lidah saya.

Pertemuan kita yang semakin sering terjadi dan menghasilkan obrolan-obrolan itu lah saya tahu bahwa kamu masih ada faktor keturunan diabetes sehingga kamu meminimalisasi asupan makanan / minuman manis yang masuk ke tubuhmu salah satunya dengan memilih es teh tawar. Sungguh perbedaan yang cukup signifikan dengan kesukaan saya selama ini :p no problem ya kan, toh berbeda itu akan indah kalau kita bisa melihat perbedaan itu dengan cara pandang positif. πŸ˜€

Suatu hari karena dipicu rasa penasaran, saya mulai memberanikan diri ikut memesan minuman yang sama denganmu. β€œEs teh tawar nya 2, mbak!” sahut saya ketika ditanya mau minum apa kita saat itu. Lalu minuman itu disajikan, saya pun meminumnya. Wow, ternyata tidak seperti minuman sampah yang selama ini saya kira. Tidak pahit juga! Rasanya seperti minum air putih hanya saja ada rasa teh yang tidak terlalu mencolok sampai pahit seperti yang terekam di otak saya selama ini.

Itu lah awal mula ketertarikan saya dengan es teh tawar dan mampu mengubah pikiran saya selama ini. Hari berganti, tahun berlalu, sampai detik dimana saya menulis ini, saya masih lebih memilih es teh tawar ketimbang es teh manis untuk pilihan minuman. Itu karena kamu.

Semua pasti tahu sayur kol / kubis. Sayur berwarna hijau pucat ini jadi makanan yang dulu sering ada dikeseharian saya. Kalau Ibu saya masak sop ayam, sudah pasti ada kol di dalamnya. Ibu juga terkadang menyertakan kol untuk lalapan bersama pete kesukaan saya dan alm Bapak. Ketika beranjak kuliah sayur kol juga tidak asing bagi anak kuliahan seperti saya saat itu yang hampir setiap hari makan lalapan penyetan atau lalapan pecel lele karena harganya yang sangat manusiawi bagi mahasiswa.

Beberapa tahun belakangan ini sayur kol ini hampir tidak pernah saya sertakan di daftar sayuran yang saya konsumsi. Penyebabnya? Kamu.

Saya tahu ketertarikanmu pada sayuran sangat minim. Minim bukan berarti tidak makan sayur sama sekali, kamu pemilih untuk jenis sayuran tertentu. Di awal kita bertemu dan saling berkomunikasi disitu saya tahu bahwa kamu memang tidak menyukai beberapa sayuran. Di warung, kalau kita makan bareng kamu pasti hanya memilih lauk pauk saja karena sayuran yang tersedia tidak sesuai seleramu. Yang paling mencolok adalah sayuran yang-kamu-sebut-kubis yang tidak masuk dihitunganmu. Kenapa saya paling tahu itu, karena makan bakso saja kamu selalu pasti memesan untuk tidak pakai kubis. Se la lu.

Kebiasaanmu itu merambat ke kehidupan saya. Sekarang saya sangat jarang makan sayur kubis/kol. Dan yang paling signifikan adalah, ketika memesan bakso (juga) atau nasi goreng saya akan selalu bilang β€œjangan dikasih kubis ya, pak.” Rasa doyan itu berkurang di diri saya. Itu karena kamu.

Segelas es teh tawar dan sayur kubis adalah hal-hal yang mengubah pola hidup saya. Menambah dan mengurangi. Mungkin terdengar sederhana karena 2 hal tsb. Tapi buat saya kamu berdampak bagi hidup saya sedemikian rupa, bahkan untuk waktu yang menurut saya singkat ini (dari 2013 sampai sekarang). Tidak perlu hal-hal yang besar bagaimana kamu mempengaruhi hidup saya, saya mengingat dari hal-hal kecil yang kadang terabaikan.

Saya tidak bertujuan apa-apa menulis ini. Hanya bentuk apresiasi saya terhadap kamu, bahwa dampak yang kamu buat ke saya seperti ini. Toh dampak tidak selalu negatif. Kalau ini silahkan kamu menilainya sendiri. Saya ngantuk.

Menapaki Kawah Gunung Ijen

Lama saya tak muncul dan tak bercerita tentang traveling. Yup, memang lagi agak jarang traveling yang serius karena pekerjaan saya juga lebih sering mengharuskan “traveling” alias keluar kota untuk mengunjungi beberapa project. Nah kalau urusan kerja keluar kota biasanya hanya bisa mengunjungi tempat-tempat yang umum namun belum pernah dikunjungi dan kebanyakan adalah tempat makan πŸ˜€ seperti misalnya ke kota Batu, hampir setiap malam selalu hadir di Alun-alun kota Batu yang ketika pertama kali kesana saya cukup amazed dengan banyaknya makanan disana. Kemudian menjadi lapar mata lalu kalap dan berakhir tongpes hahaha! Lalu berkunjung ke kota Makassar mencoba coto gagak dan pallu basa yang tersohor itu dan berakhir di Pantai Losari sambil makan pisang epe’ *lagi lagi makan* πŸ˜€ Yang paling sering dikunjungi adalah kota Surabaya, kalau ini kulinernya sudah gak perlu lagi diceritakan, beragam dan enak-enak! Jadi tak heran setiap keluar kota untuk kerjaan pasti berat badan akan naik karena work hard, eat hard *halaah*

Nah, traveling yang agak serius adalah dua bulan yang lalu ketika ada family gathering yang diadakan kantor. Destinasi yang dituju juga dekat, yaitu ke Banyuwangi.

Hari pertama, kami ke Pulau Merah yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari pusat kota Banyuwangi. Kalau anda tinggal di Bali yang notabene lebih sering melihat pantai-pantai bagus di Bali mungkin Pantai Merah ini menjadi terlihat biasa saja. Hanya hamparan pantai yang panjang dan ada sebuah gugusan pulau kecil di tengahnya. Sayangnya saat berkunjung kesana kami disambut hujan deras. Jadi terasa kurang pas ketika ke pantai namun tidak berpanas-panas ria. Hehehehe.

dsc_2421-01

Di hari kedua, jadwal kami adalah hiking ke kawah Gunung Ijen. Ini yang saya tunggu-tunggu karena ini akan jadi perjalanan kedua saya hiking atau istilah yang keren dikalangan traveler adalah muncak *haseeg* :)) Jangan terlalu berpikir jauh versi muncak saya, karena untuk urusan naik gunung saya termasuk tipe cemen-penasaran :)) cemen karena fisik saya tidak terlalu kuat untuk urusan dingin. Penasaran karena keindahan yang didapat ketika sampai di puncak adalah sesuatu yang mewah buat saya.

Kami mulai berangkat dari penginapan pukul 10 malam dengan rute: Licin-Jambu-Paltuding waktu yang ditempuh dengan mobil kurang lebih 1,5 jam. Dari Licin menuju Paltuding kami disuguhi pemandangan-pemandangan bukit dan hutan yang indah serta jalan yang berkelok dan menanjak. Paltuding adalah pos terakhir bagi kendaraan dan memulai trekking menuju kawah Ijen. Pendakian jalur awal menurut saya yang agak berat karena jalanan sedikit berpasir dan cukup menanjak. Tak terhitung berapa banyak saya berhenti untuk mengatur nafas πŸ˜€ perlahan namun pasti, itu slogan saya :))

Di jalur pendakian juga tersedia semacam troli diperuntukkan bagi yang gak kuat menanjak, jadi tinggal duduk di kereta seadanya tersebut dan nanti ditarik satu orang didepan dan satu orang dibelakang yang mendorong dan tentunya tidak gratis yaaaaa. Troli yang lewat dihadapan saya seperti godaan penuh kemewahan bagi saya yang-hampir-putus-asa-dan-mau-balik-turun-saja hahahahaha. Saya dibuat saluuuttttt luar biasa sama bapak-bapak penarik troli yang naik turun kawah Ijen untuk mencari nafkah ini. Ada juga beberapa penambang belerang yang memanggul keranjang berisi belerang kuning, yang kalau ditimbang kira-kira beratnya bisa mencapai 100 kg dan harus dipikul turun 😦 salut dan bersyukur yang terpikirkan oleh saya saat itu.

Daaaaan setelah lebih separuh perjalanan akhirnya tiba di pos bunder. Di pos ini kami tidak singgah karena ramai oleh pendaki lainnya, kami pun memutuskan untuk lanjut. Yang selalu saya tanyakan kepada guide atau kawan yang sudah pernah ketika melakukan perjalanan jauh adalah biasanya “masih jauh gak?” jadi saya bisa mengukur kemampuan saya selanjutnya. Setelah di pos bunder saya bertanya kepada guide saat itu dan si mas pun menjawab “deket kok, kalau jalan terus 15 menitan juga nyampe.” Waah saya semakin bersemangat untuk meneruskan perjalanan. Dan benar saja setelah dari pos bunder jalurnya sedikit menanjak tajam namun setelahnya landai yang menandakan kawah Ijen semakin dekat.

Akhirnya setelah 3 jam perjalanan trekking, tibalah kami di bibir kawah gunung Ijen di ketinggian 2386 mdpl. Masih pukul 03.30 saat itu, kami beristirahat sebentar dan duduk-duduk. Ternyata duduk-duduk bukan suatu keringanan karena hawa dingin yang menusuk mengharuskan untuk bergerak terus. Jadi kami mencoba berjalan sedikit lagi ke lokasi tempat melihat sunrise. Ke kawah Ijen ada 2 alternatif pemandangan yang bisa dikunjungi, yang pertama melihat fenomena blue fire yang di dunia hanya ada 2, yaitu di Islandia dan di kawah Ijen. Jaraknya untuk turun kebawah sekitar 250 meter dengan kondisi jalan yang bebatuan. Fenomena api biru alami ini hanya bisa dinikmati sebelum matahari terbit. Jangan lupa untuk memakai masker karena bau belerang yang cukup menyengat.

img-20160816-wa0036

Selain melihat si api biru, pemandangan lainnya adalah menikmati sunrise dari lokasi berbeda. Agak berhati-hati menuju kesana karena di sebelah sisi kiri adalah jurang kawah.

dsc_2454

Saya selalu kagum akan keindahan alam, pantai atau gunung, bukit atau lembah, sungai atau hamparan sawah, semuanya terasa meringankan. Semburat kemerahan penantian akan matahari terbit tidak beranjak dari penglihatan saya. Menakjubkan!

img-20160816-wa0054-01

Di perjalanan turun, kami berpapasan dengan Gordon Ramsay :))) gak sempat fotoan karena saya tidak terlalu mengenali wajahnya hanya sekedar tahu dari nama saja. Setelah saya googling memang agak mirip dengan yang berpapasan tadi, bisa jadi juga teman saya yang rada siwer matanya :))))